🔴DURHAKA KEPADA ORANG TUA MEMBAWA SENGSARA
🔊Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
Orang tua adalah penyebab keberadaan kita di muka bumi, meskipun Allah yang menciptakan kita dan memberikan rezeki serta segala fasilitas, tetapi orang tua sebagai sebab kita hadir di dunia. Bayangkan, jika dahulu bapak atau ibu kita menggugurkan kita, tentu kita tidak akan ada di sini.
Di dalam surah An-Nisa, ayat 36, Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. An-Nisa [4]: 36)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa salah satu kewajiban utama manusia adalah berbakti kepada orang tua. Namun, yang kita lihat, sering kali orang lebih sibuk menuntut hak daripada melaksanakan kewajiban. Sebelum membicarakan hak, sebaiknya bertanya, apa kewajiban kita? Sama seperti dalam kehidupan bernegara, sebagai warga Indonesia yang taat kepada Allah, kita seharusnya lebih dulu bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada negeri ini?” sebelum bertanya, “Apa yang diberikan negara kepada saya?”
Tujuan utama manusia di muka bumi ini adalah mengabdi kepada Allah Jalla Jalaluhu. Namun, kita sedih melihat realitas saat ini, di mana banyak sarana teknologi yang canggih, tetapi masih ada yang menyembah berhala, patung, bahkan mengabdi kepada setan dan jin. Di antara 8,2 miliar penduduk bumi (data 2024), hanya sekitar 2 miliar yang beragama Islam. Ini berarti sebagian besar penduduk dunia masih melakukan kesyirikan. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menyampaikan kepada umat manusia bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Maka harapan saya, setelah pulang dari sini, semua membuat status di handphone atau di Instagram dengan menuliskan Laa ilaaha illallah — tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdakwah selama 13 tahun di Makkah, mengajak orang-orang untuk mentauhidkan Allah. Beliau berjalan dari satu lorong ke lorong lain, dari satu jalan ke jalan lain, dari pasar ke pasar, dan dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya. Beliau mengatakan, “katakan Laa ilaaha illallah.”
Semua fasilitas yang ada pada kita, dan pada siapa pun di muka bumi, adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka itu adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl [16]: 53).
Namun, ada orang yang kemudian lupa dengan Pemberinya. Luqman, ketika memberikan wasiat kepada anaknya, mengatakan:
يَٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).
Kesyirikan adalah bentuk kedzaliman terbesar. Bayangkan jika seseorang memberikan semua fasilitas kepada pekerjanya, seperti mobil, rumah, modal usaha, sopir, dan gaji bulanan, tetapi di akhir bulan, hasil kerja itu diberikan kepada orang lain. Apa yang akan kita katakan? “Pengkhianat!” Dan sebagian manusia berkhianat kepada Tuhannya dengan memberikan ibadah kepada selain-Nya.
Simak melalui: https://www.youtube.com/live/3A1D-mRCPqQ?si=l434c6mnm_Tn2Kwx